Tampilkan postingan dengan label GreenDesign. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GreenDesign. Tampilkan semua postingan
Posted by Unknown On 19.10

Pengendalian rayap selama ini dilakukan dengan bahan kimia. Pembasmiannya juga fokus pada perlakuan kayu. Akibatnya, pembasmian rayap kadang mengorbankan serangga lain serta merugikan manusia. Peneliti dari Balai Litbang Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Sulaeman Yusuf, mengembangkan bahan antirayap alami, ramah lingkungan dan selektif untuk memperbaiki cara pengendalian rayap. "Bahan ini membasmi khusus rayap, tidak serangga lain. Selama ini dalam pengawetan kayu, kayunya yang diawetkan. Sekarang, serangganya yang kita kendalikan," papar Sulaeman.
Menurut Sulaeman, antirayap yang selektif diperlukan untuk memperkecil efek lingkungan pendendalian rayap. Di samping itu, hanya beberapa jenis rayap saja yang sebenarnya merusak kayu dan bangunan. Tercatat, jenis rayap yang merusak bangunan adalah Coptotermes gestroi, C. curvignatus, Schedorhitotermes javanicus, Macrotermes gilvus, Microtermes spp. dan Cryptotermes cynocephalus. Diantara beberapa spesies yang ditemukan di Indonesia, hanya 2 spesies yang menyerang bangunan, yakni Coptotermes gestroi dan C curvignathus. Jenis C. gestroi adalah yang paling ganas.
Untuk mengembangkan bahan antirayap selektif, Sulaeman mengeksplorasi keanekaragaman hayati Indonesia. Beberapa jenis tanaman dan jamur sudah ditelitinya. Antirayap alami dipilih karena juga dipandang lebih ramah lingkungan. Bahan kimia antirayap tertentu, seperti aldrin dan chlordan, merugikan kesehatan dan bersifat karsonogenik. Eksplorasi Sulaeman menunjukkan bahwa alam Indonesia ternyata menyimpan bahan antirayap alami. dari puluhan jenis yang diteliti, ada lima  jenis yang efektif mengendalikan rayap. Lima jenis tanaman tersebut adalah Bintaro (Carberra adollum dan Carbera manghas), Kecubung (Brugmansia candida), Antiaris toxicaria, Azadirachta nimba atau nimba dan tembakau (Nicotiana tabaccum).
Bahan aktif yang membunuh rayap pada jenis tumbuhan tersebut adalah Azadirachtin pada nimba, Eugenol pada cengkeh, Certerin pada Bintaro dan nikotin pada tembakau. Bahan itu merusak kulit dan lambung rayap. "Kita akan cari lagi bahan aktifnya sehingga nanti bisa diproduksi," kata Sulaeman yang baru saja dilantik sebagai profesor riset bidang biomaterial. Menurut Sulaeman, bahan antirayap alami potensial untuk diproduksi. Apalagi, bahan alaminya sendiri tersedia melimpah di alam. "Misalnya bintaro, banyak sekali di pinggir jalan," ujar Sulaeman. "Nantinya kita mungkin bisa memproduksi pestisida alami yang bebas dalam bentuk spray, seperti obat nyamuk, untuk mengendalikan rayap,".
Posted by Unknown On 19.07

Seorang mahasiswa Program Doktoral Ilmu Pertanian Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, DR Sukartono, berhasil menemukan teknologi Biochar. Pemanfaatan teknologi tersebut untuk membenahi persoalan kesuburan tanah di lahan kering berpasir. Temuan itu sudah diterapkan di lahan kering berpasir seluas 38.000 hektar di Kabupaten Lombok Utara. Menurut Sukartono, lahan kering dengan tipe tanah berpasir, memiliki faktor pembatas pertumbuhan tanaman. Selain menyebabkan tanaman tidak tumbuh subur karena kekurangan air, tanah kering juga sangat rentan terhadap kekurangan unsur hara atau kandungan yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah kecil sepert Besi (Fe), Mangaan (Mn), atau dalam jumlah makro, seperti Nitrogen (N). "Dengan ditemukannya Biochar, lahan kering berpasir (dry land sandy soils) bisa menjadi lahan potensial untuk menanam berbagai macam tanaman bernilai ekonomis".
Dengan menggunakan Biochar, sebuah bahan arang pembenah tanah, kesuburan tanah pada lahan kering dan berpasir bisa diperbaiki dan bisa menyuburkan untuk tanaman yang akan ditanam nantinya. "Biochar lebih efektif digunakan, karena aplikasi Biochar mampu meningkatkan kandungan c-organik tanah khususnya pada lapisan 0-10cm. Disamping itu, aplikasi pada biochar lebih efektif digunakan karena pelapukan atau dekomposisinya sangat lambat dan bertahan lama dibandingkan dengan bahan organik segar seperti kompos dan pupuk kandang," jelasnya. Biochar, beber Sukartono, merupakan bahan arang yang dibuat dari limbah pertanian organik, yang bisa berasal dari sisa-sisa penebangan kayu, tempurung kelapa, dan kotoran sapi. "Biochar dapat mempertahankan ketersediaan unsur hara dalam jangka waktu yang lebih lama," katanya. Kelebihan menggunakan Biochar, jika pada pemupukan biasa, ketika tanah terkena air hujan, akan mudah terkikis. Namun kalau pakai Biochar tidak akan mudah terkikis. "Karena karena ada muatan negatif sehingga bisa mengikat unsur hara yang bermuatan positif," jelasnya.
Lebih rinci Sukartono menjelaskan, pembuatan Biochar terdiri dari bahan kulit kelapa atau batok kelapa yang sudah kering. Lalu, dibakar di dalam sebuah lubang dengan menggunakan pemanasan auto thermal."Batok atau kulit kelapa kemudian dipanaskan selama delapan jam, di dalam lubang berukuran 1 meter kali 1,5 meter kali 1 meter," katanya. Setelah pembakaran akan dihasilkan material berwarna hitam yang terbentuk. "Setelah itu, material berwarna hitam itu didinginkan dengan cara dibungkus daun pisang selama 12 jam untuk mendapatkan arang," katanya. Tahap ketiga, setelah proses pendinginan dilakukan, akan dihasilkan butiran-butiran partikel berukuran 1 mm, yang sudah disaring. Butiran-butiran tersebut yang menjadi Biochar, atau yang akan digunakan sebagai bahan penyubur tanah berpasir. Dari hasil temuan penelitian kata Sukartono menuimpulkan, memberikan konfirmasi bahwa Biochar dan pupuk kandang merupakan pembenah organik yang bernilai untuk membenahi kesuburan tanah dan untuk produktivitas tanaman.
Posted by Unknown On 19.03

Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surya Mahendra, bersama dua rekannya merancang keran hemat air, terutama untuk keran air wudu. "Kalau dipakai keran air wudu bisa menghemat 1,5 liter air. Biasanya, setiap orang membutuhkan empat liter air wudu, tapi dengan keran itu hanya 2,5 liter," katanya di Surabaya. Didampingi dosen pembimbing Suwito, ia menjelaskan, penghematan itu dapat dilakukan dengan menggunakan sensor dan alat otomatis yang disebut solenoid valve. "Keran hemat air itu memang memakai baterai berdaya enam watt, tapi dalam kondisi tidak dipakai memakai 0,1 watt. Untuk pengganti baterai bisa menggunakan sel surya," kata mahasiswa semester VI itu. Menurut dia, sel surya mampu menyerap energi 100 watt saat matahari bersinar terang dan bisa disimpan untuk kebutuhan malam hari. "Yang jelas, saat merancang alat yang dapat dibuat dalam waktu satu jam itu karena saya sering menyaksikan keran wudu di masjid yang tidak dimatikan," katanya. Alat itu juga sempat dipamerkan dalam Expo ITS dan lokakarya bertema "Selamatkan Air Sekarang" beberapa waktu lalu.

Lain halnya dengan alat rancangan mahasiswa Jurusan Elektro lainnya, yakni Maulana Djatikusuma. "Saya merancang alat deteksi kedalaman air banjir di kawasan tertentu," katanya. Dengan alat itu, kata mahasiswa semester VI tersebut, kedalaman air banjir di wilayah tertentu dapat dihubungkan dengan traffic light untuk menampilkan kedalaman air banjir pascalampu merah itu. "Kalau ketinggian air banjir melebihi ukuran ban mobil, maka seorang pengendara dapat membelokkan mobilnya untuk menghindarinya, sekaligus tidak menyebabkan mobilnya mogok yang akhirnya menimbulkan kemacetan panjang," katanya. Hingga saat ini, alat yang dirancangnya itu masih memiliki radius deteksi 200 meter hingga satu kilometer. "Jadi, alat itu mirip early warning system yang mendeteksi cekungan kedalaman air," katanya.
Posted by Unknown On 08.17

Ditengah era modern kreatifitas menjadi hal yang sangat sangat penting, karena dengan kreatifitas kita dapat membuat sesuatu hal yang terlihat tidak berguna menjadi barang yang mempunyai nilai jual yang tinggi. Contohnya saja kerajinan hewan dari barang bekas, dengan mendaur ulang barang-barang bekas disekitar kita yang selama ini tidak laku dijual oleh para pemulung, di tangan orang yang kreatif ternyata bisa menjadi berbagai perkakas dengan nilai jual tinggi.
Posted by Unknown On 16.53
1. Pukat Udang
Pukat udang atau biasa juga disebut pukat harimau adalah jaring yang berbentuk kantong yang ditarik oleh satu atau dua kapal, bisa melalui samping atau belakang. Alat ini merupakan alat yang efektif namun tidak selektif sehingga dapat merusak semua yang dilewatinya. Oleh karena itu kecenderungan alat tangkap ini dapat menjurus ke alat tangkap yang destruktif. Aturan-aturan yang diberlakukan pada pengoperasian alat ini relatif sudah memadai, namun pada prakteknya sering kali dijumpai penyimpangan-penyimpangan yang pada akhirnya dapat merugikan semua pihak. Tujuan utama pukat udang adalah untuk menangkap udang dan juga ikan perairan dasar (demersal fish).

2. Pukat Kantong
Pukat kantong adalah jenis jaring menangkap ikan berbentuuk kerucut yang terdiri dari kantong atau bag, badan(body), dua lembar sayap (wing) yang dipasang pada kedua sisi mulut jaring, dan tali penarik (warp). Alat ini tergolong tradisional, tidak merusak lingkungan, dan ukurannya mesh sizenya relatif kecil. Pukat kantong terdiri atas payang, dogol, dan pukat pantai.

3. Pukat Cincin (purse seine)
Pukat cincin adalah jaringan yang terbentuk empat persegi panjang, dilengkapi tali kerut yang bercincin yang diikatkan pada bagian bawah jaring sehingga membentuk kerut dan seperti mangkuk. Alat penangkap ini ditujukan untuk menangkap gerombolan ikan permukaan (pelagic fish). Alat tangkap ini tergolong efektif terhadap target spesies dan kecenderungan tidak destruktif.

4. Jaring Insang
Jaring insang adalah jaring berbentuk empat persegi panjang, mata jaring berukuran sama dilengkapi dengan pelampung pada bagian atas dan pemberat pada bagian bawah jaring. Dioperasikan dengan tujuan menghadang ruaya gerombolan ikan oleh nelayan secara pasif dengan ukuran mesh size. Alat penangkap ini terdiri dari tingting (piece) dengan ukuran mata jaring, panjang, dan lebar yang bervariasi. Dalam operasi biasanya terdiri dari beberapa tinting jaring yang digabung menjadi satu unit jaring yang panjang, dioperasikan dengan dihanyutkan, dipasang secara menetap pada suatu perairan dengan cara dilingkarkan atau menyapu dasar perairan. Contohnya jaring insang hanyut (drift gillnet), jaring insang tetap(set gillnet), jaring insang lingkar (encircling gillnet), jaring insang klitik (shrimp gillnet), dan trammel net.

5. Jaring Angkat
Jaring angkat adalah suatu alat pengkapan yang cara pengoperasiannya dilakukan dengan menurunkan dan mengangkatnya secara vertikal. Alat ini terbuat dari nilon yang menyerupai kelambu, ukuran mata jaringnya relatif kecil yaitu 0,5 cm. Bentuk alat ini menyerupai kotak, dalam pengoperasiannya dapat menggunakan lampu atau umpan sebagai daya tarik ikan. Jaring ini dioperasikan dari perahu, rakit, bangunan tetap atau dengan tangan manusia. Alat tangkap ini memiliki ukuran mesh size yang sangat kecil dan efektif untuk menangkap jenis ikan pelagis kecil. Kecenderungan jaring angkat bersifat destruktif dan tidak selektif. Contoh jaring angkat adalah bagan perahu atau rakit (boat / raft lift net), bagan tancap (bamboo platform lift net), dan serok (scoop net).


6. Mata Pancing
Pancing adalah salah satu alat penangkap yang terdiri dari dua komponen utama, yaitu : tali (line) dan mata pancing (hook). Jumlah mata pancing berbeda-beda, yaitu mata pancing tunggal, ganda, bahkan sampai ribuan. Prinsip alat tangkap ini merangsang ikan dengan umpan alam atau buatan yang dikaitkan pada mata pancingnya. Alat ini pada dasarnya terdiri dari dua komponen utama yaitu tali dan mata pancing. Namun, sesuai dengan jenisnya dapat dilengkapi pula komponen lain seperti : tangkai (pole), pemberat (sinker), pelampung (float), dan kili-kili (swivel). Cara pengoperasiannya bisa di pasang menetap pada suatu perairan, ditarik dari belakang perahu/kapal yang sedang dalam keadaan berjalan, dihanyutkan, maupun langsung diulur dengan tangan. Alat ini cenderung tidak destruktif dan sangat selektif. Pancing dibedakan atas rawai tuna, rawai hanyut, rawai tetap, pancing tonda, dan lain-lain.

7. Bubu
Perangkap adalah salah satu alat penangkap yang bersifat statis, umumnya berbentuk kurungan, berupa jebakan dimana ikan akan mudah masuk tanpa adanya paksaan dan sulit keluar karena dihalangi dengan berbagai cara. Bahan yang digunakan untuk membuat perangkap : bamboo, rotan, kawat, jaring, tanah liat, plastic, dan sebagainya. Pengoperasiannya di dasar perairan, di permukaan perairan, di sungai daerah arus kuat, dan di daerah pasang surut. Alat ini cenderung selektif karena ikan terperangkap di dalamnya. Meskipun cenderung tidak destruktif, namun untuk jermal (stow net) maka pengaturan mesh size jaringannya dan juga lokasi pemasangannya harus sesuai. Contoh perangkap adalah sero (guiding barrier), jermal (stow net), bubu (portable trap) dan perangkap lain.

8. Pengumpul kerang dan rumput laut
Jenis Rake (alat penangkap pengumpul kerang/rumput laut)
Alat pengumpul kerang dan rumput laut pada umumnya di desain dengan pengoperasian yang sederhana dan pengusahaannya dilakukan dengan skala yang kecil. Alat ini selektif dan tidak destruktif karena ditujukan untuk menangkap target seperti kerang-kerangan. Contoh pengumpul kerang adalah garuk (rake), cengkeraman, dan ladung kima. Sedangkan, contoh pengumpul rumput laut berupa alat sederhana berbentuk galah yang ujungnya bercabang. Akan tetapi, alat ini merusak habitat lingkungan perairan kalau tidak dilakukan sesuai prosedur.

9. Pukat Ikan Karang (muro-ami)
http://www.instablogsimages.com/images/2008/04/26/muro-ami-3_fe6gV_16638_310x235.jpg
Pukat ikan karang (muro-ami) adalah suatu alat penangkapan yang dibuat dari jaring, yang terdiri dari sayap dan kantong yang dalam pengoperasiannya dilakukan penggiringan ikan-ikan yang akan ditangkap agar masuk ke bagian kantong yang telah dipasang terlebih dahulu. Alat ini cenderung tidak destruktif dan tidak merusak ekosistem, karena metode pengoperasiannya yang tidak sampai merusak karang. Penggunaan alat ini dilakukan oleh beberapa nelayan dengan berenang, mengejutkan ikan-ikan karang sambil membawa alat penggiring. Dinamakan pukat ikan karang karena tujuan utamanya adalah menangkap jenis-jenis ikan karang.

10. Tombak
alat penangkap yang terdiri dari batang (kayu, bambu) dengan ujungnya berkait balik (mata tombak) dan tali penarik yang diikatkan pada mata tombak. Tali penariknya dipegang oleh nelayan kemudian setelah tombak mengenai sasaran tali tersebut ditarik untuk mengambil hasil tangkapan. Senapan adalah alat penangkap yang terdiri dari anak panah dan tangkai senapan. Penangkapan dengan senapan umumnya dilakukan dengan cara melakukan penyelaman pada perairan karang. Untuk penangkapan dengan panah biasa, umumnya dilakukan dekat pantai atau perairan dangkal. Harpun Tangan adalah alat penangkap yang terdiri dari tombak dan tali panjang yang diikatkan pada mata tombak. Harpun tangan ini ditujukan untuk menangkap paus, dimana tombak langsung dilemparkan dengan tangan kearah sasaran (paus) dari atas perahu. Kecenderungan alat tangkap yang relatif sederhana ini tidak destruktif dan sangat selektif karena ditujukan untuk menangkap suatu spesies. Tetapi alat ini dapat merusak habitat bila disalahgunakan.
Posted by Unknown On 08.17
  
Jepang selalu belajar. Gempa bermagnitud 9 yang mengguncang Jepang pada 11 Maret 2012 lalu menunjukkan bahwa pertahanan yang telah diupayakan seperti dinding laut ternyata tak cukup. Rancangan baru pun diusulkan. Keiichiro Sako dari Sako Architechts di Tokyo merancang sebuah kawasan tepi pantai yang anti tsunami. Kawasan ini bisa dikatakan sebuah pulau buatan yang letaknya lebih tinggi dari daerah sekitarnya, dinamai "Sky Village" atau Kampung Langit. Rencananya, rancangan kawasan tersebut akan diwujudkan di kawasan Tohoku, timur laut Jepang, yang tahun 2011 lalu dihancurkan gempa. Meskipun terdengar seperti mimpi, Sako yakin rancangannya bisa diwujudkan. "Saya ingin menawarkan cara agar orang dapat tetap hidup dan bekerja dengan aman serta tetap nyaman tinggal dataran rendah, ini alasannya saya memulai proyek ini," kata Sako. Akibat gempa tahun lalu, pemerintah Jepang berencana untuk mengajak warga meninggalkan desa-desa yang diterjang tsunami serta merelokasi warga ke area yang lebih tinggi, lebih jauh dari pantai. Menurut Sako, rencana pemerintah Jepang kurang tepat. Rencana pembangunan Sky Village lebih tepat karena tidak mengharuskan warga meninggalkan daerah asal dan cara hidup semula. "Bagaimana anda hidup aman di dataran rendah? Pilihannya hanya membangun bangunan buatan yang tinggi.
"Sekarang, jika anda membuatnya, dan berbentuk kotak, mumngkin akan langsung dihantam oleh tsunami. Jadi saya pikir yang harus dilakukan adalah membangun struktur bentuk lingkaran dengan fondasi baja," tambah Sako. Rancangan berbentuk lingkaran atau oval sangat penting. Jika bangunan berbentuk kotak, maka air dari gelombang tsunami akan langsung menghantam. Jika bangunan berbentuk oval, maka air akan mengalir ke samping. Sako merancang bangunan sebaik mungkin sehingga anti-tsunami. Saat tsunami, gerbang bangunan tertutup sehingga air tak bisa masuk. Listrik disuplai dengan energi terbarukan agar tetap bisa beroperasi. Ada pula cadangan baterai lithium. Sky Village memiliki kluster-kluster. Terdapat kluster untuk sekolah, hunian, dan perikanan. Ada pula tempat yang untuk membantu aktivitas perikanan sehingga mendukung aktivitas warga sebagai nelayan. Dana pembangunan Sky Village tentunya sangat besar. Yasuaki Onoda dari Departemen Arsitektur dan Ilmu Bangunan di Tohoku University memperkirakan bahwa biayanya bisa mencapai triliunan rupiah per 'pulau'. Untuk mengatasi tantangan biaya, Sako mengatakan bahwa akan mendaur ulang material bangunan yang dihancurkan tsunami tahun lalu. Ia percaya, bangunan tak cuma akan membantu para penduduk, tapi juga menjadi tujuan wisata.
Posted by Unknown On 17.39
 
Menggunakan sepatu salju, Sonja Hinrichsen, dengan bantuan dari 5 relawan, menciptakan gambar-gambar salju di Celah Rabbit’s Ear , melewati gunung yang tinggi di Pegunungan Rocky. Sonja Hinrichsen sebelumnya menciptakan gambar salju di New York, Colorado dan Hayden dalam beberapa tahun terakhir. Hinrichsen, 44 tahun, berasal dari Jerman. Dia tiba di California pada tahun 1999 untuk sekolah pascasarjana di San Francisco Art Institute. Gambar salju pertama menginspirasi Hinrichsen pada tahun 2009 saat bekerja di Peternakan Anderson dekat Aspen. Dia terinspirasi oleh jejak hewan yang tertinggal di mega kanvas hamparan salju yang luas di padang rumput gunung yang tinggi. Dia menciptakan spiral pertamanya di Danau Tahoe. Seiring waktu, ia mulai menyiasati, gambar dengan sketsa di atas kertas. Tapi konsep sering berubah karena usahanya merupakan respon langsung terhadap lingkungan, dan salju berperilaku berbeda tergantung pada kelembaban, kedalaman dan tekstur. "Gambar Salju bertahan singkat. Bisa dua sampai tiga jam, atau dua sampai tiga hari," katanya.





Posted by Unknown On 18.16

Pusat Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (PTL BPPT) mengembangkan teknologi pengelolaan limbah cair dari industri tahu di Banyumas, Provinsi Jawa Tengah menjadi biogas. "Pengelolaan limbah cair tahu menjadi biogas sudah kita mulai sejak 2009 dan saat ini masyarakat sekitar industri tahu di Banyumas sudah dapat memanfaatkan biogas yang dihasilkan untuk memasak," kata peneliti BPPT, Widiatmini SW
Widiatmini selaku koordinator program pengembangan energi biogas pada industri tahu untuk mendukung cluster mandiri energi dan mitigasi gas rumah kaca, mengatakan, industri tahu menghasilkan emisi gas rumah kaca terbesar disamping industri tapioka. Pengolahan limbah tahu cair dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan membantu pemenuhan energi bagi masyarakat sekitar, katanya.
Di Indonesia saat ini terdapat 84.000 industri tahu dan jumlah limbah cair yang dihasilkan mencapai 20 juta m3 per tahun, jika dikelola total emisi gas rumah kaca yang bisa dikurangi hampir satu juta ton per tahun, katanya. PTL BPPT mengolah limbah cair industri tahu dari satu meter kubik limbah menjadi 6.500 liter biogas. Teknologi yang digunakan adalah Fixed Bed Reactor. Pengembangan dilakukan di desa Kalisari dan Cikembulan Kabupaten Banyumas dengan bantuan pendanaan dari Kementerian Riset dan Teknologi.
Dari percontohan yang sudah dibangun di dua desa tersebut, biogas yang dihasilkan dimanfaatkan oleh 50 rumah tangga untuk menggantikan LPG. Total penghematan LPG yang diperoleh 90 ton per tahun dan reduksi emisi CO2 sebesar 184 ton per tahun.
Posted by Unknown On 01.42
Sebuah penemuan atau inovasi tak selamanya harus rumit dan berteknologi tinggi. Yang penting, ada kegunaannya.  Lihat inovasi-inovasi berikut ini. Bisa jadi kita akan berpikir unik atau lucu. Atau mungkin malah tertantang untuk membuat penemuan baru? 
Weight Belt


  
Dengan gesper ini kita bisa mengetahui seberapa kurus atau gendut, bisa mengontrol program "pengecilan perut", bahkan bisa membantu penjaga distro untuk menemukan ukuran celana yang pas. So simple, kan?
Toilet Sink

  
Bayangkan saat sedang asik "nge-bom" di toilet, tiba-tiba perlu air bersih untuk cuci tangan. Mau membasuh kotoran lalu ke wastafel dan kembali meneruskan "nge-bom" atau.... (ah, silahkan berimajinasi). Kenapa tidak gunakan Toilet Sink seperti gambar di atas? Praktis, bahkan membantu menghemat air. Ya, air hasil cuci tangan kita masuk ke penampungan untuk membersihkan "hasil bom" di toilet.
Heart shaped wheel


Sedang jatuh cinta? Ingin meninggalkan jejak "hati" agar gebetan bisa melihatnya? Pakai saja ban dengan kembang bentuk hati seperti ini, serasa ada cinta sepanjang jalan.


Pizza Scissor


Pizza Scissor atau lengkapnya: pizza handle and cutter scissor berguna untuk membelah pizza dengan hasil yang rapi tanpa perlu repot mengotori tangan, karena langsung disajikan ke atas piring.
Sunnyside Up Daisy Eggs

  
Kalau bisa menggoreng telur dengan bentuk variasi seperti ini, dijamin bikin sarapan pagi terasa spesial. Apalagi kalau ada bentuk lainnya, ya. Berguna loh, buat para ibu yang ingin memberi sajian unik untuk anak-anaknya.
Toaster Design Heart-Attack


Satu lagi inovasi produk yang membuat sarapan pagi lebih seru. Yaitu bermain jadi dokter yang menggunakan alat pacu jantung (defibrillator) saat menyelamatkan pasien. Desain toaster ini dibuat oleh Shay Carmon.
Shark Fin Tea Ball


Bosan minum teh cara konvensional? Coba dengan saringan teh ala sirip ikan hiu ini. Seolah-olah teh yang larut membentuk pola darah di lautan saat seekor hiu melahap mangsanya.
Posted by Unknown On 17.58


Giethoorn adalah desa wisata di Belanda,yang dijuluki “Venesia dari Utara“. Dijuluki seperti itu karena tidak ada kendaraan darat bermotor yang bisa lalu lalang di sana, dan transportasi hanya bisa dilakukan di atas air, di kanal yang bercabang banyak menjadi aliran sungai – sungai kecil.
Air yang mengelilingi dan menggenangi desa itu berawal dari datangnya banjir besar St Elizabeth pada tahun 1170 , dan desa itu sendiri didirikan dan dikembangkan kembali pada 1230 ketika buronan Mediterania datang untuk menetap di sini. Para buronan menemukan banyak tanduk kambing liar yang mungkin telah tewas karena banjir, dan dari situlah nama desa itu berasal. Awalnya desa ini disebut ‘Geytenhorn’yang berarti ‘tanduk kambing‘, akhirnya menjadi Giethoorn setelah bertahun-tahun. Banyak rumah-rumah dibangun di atas pulau-pulau kecil, dicapai melalui sebuah jembatan tinggi. Penduduk desa menggunakan perahu kecil dengan suara motor yang pelan yang dikenal sebagai kapal berbisik, dan jembatan kayu yang digunakan untuk menghubungkan satu pulau dengan yang lain. Giethoorn menjadi terkenal, terutama setelah tahun 1958, ketika komedian asal Belanda Bert Haanstra membuat komedi terkenal “Fanfare” di sana.



Posted by Unknown On 18.08
Jeff Ferrell
Prihatin atas konsumerisme masyarakat membuat profesor asal Amerika Serikat memiliki gaya hidup yang kontroversial. Jeff Ferrell, profesor di Texas Christian University (TCU), memilih mengais tempat sampah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, Ferrell tidak mau egois. Profesor sosiologi ini menyortir tempat sampah dan memberikan sebagian besar apa yang dia temukan kepada teman atau kaum papa yang membutuhkan.
Hasil dari pencarian ini membuat ruang tamunya dipenuhi banyak barang. Dia mengisinya dengan peralatan gudang, seperti sekrup hingga alat-alat listrik. Uniknya, profesor nyentrik ini tidak pernah membayar untuk sebatang sabun atau perlengkapan kantor.
Profesor usia 57 tahun ini dikenal karena kerap memberikan makanan hasil ‘temuan’ untuk teman-temannya. Namun, dia memberikannya masih dalam kemasan. Sang profesor mengais barang-barang ini menggunakan sepeda dengan berkeliling di dekat rumahnya.
Kenapa Ferrell senang mengais tempat sampah? Pria bertubuh kurus dan sangat energik ini mengaku sangat tertarik mengeksplorasi efek buruk dari konsumerisme di masyarakat. “Saya pikir adalah mengerikan karena mereka hanya membuang sampah dan memenuhi tempat sampah. Saya pikir hal ini sangat menganggu, mengingat kebutuhan barang dalam masyarakat kita,” jelasnya saat diwawancaraReuters, Rabu (7/12/2011).
Namun, tidak semua barang hasil temuan digunakan keluarganya. Istri Ferrell, Karen, mengaku tidak semua pakaiannya berasal dari tempat sampah. Ini juga berlaku untuk perabotan yang ada di rumah mereka.
Jeff FerrellHal ini berkebalikan dengan Ferrell, yang mengaku tidak pernah membeli pakaian untuk dirinya sendiri. Ferrell meyakini, mengais barang di tempat sampah adalah hidupnya. Dia memutuskan hidup mengandalkan hasil buangan orang lain sejak 10 tahun lalu. Saat itu, dia baru saja pindah ke Texas dari Arizona.
Dia menyalahkan kebiasaan buruk banyak orang di Amerika yang memilih membuang barang ketimbang menyumbangkannya untuk amal. “Hal ini perlu dimasukkan kembali dalam kehidupan masyarakat kita. Saat iPhone edisi terbaru keluar setiap enam bulan, hal ini membuat banyak iPhone edisi sebelumnya harus dibuang,” jelasnya.
Hal yang sama berlaku untuk gaya dan warna terbaru di dunia fashion. Ferrell yang pernah menjadi profesor kriminologi tamu di University of Kent di Inggris, telah menulis sembilan buku, termasuk “Kekaisaran Mengais” pada 2006. Selama ini, dia mendeteksi adanya ‘kejahatan dalam masyarakat terhadap kaum miskin’.
Ferrell menyortir temuannya dalam sebuah kamar di belakang rumah. Sebuah tumpukan selimut wol tebal akan diberikan ke tempat penampungan tunawisma, ditambah dengan tas ransel dan celana jeans. Sementara sebuah toko kecil di dekat rumahnya mendapat peralatan kecil dan barang lainnya.
Sesekali, dia memberikan set perlengkapan untuk sekelompok mahasiswa imigran di TCU, yang sedang belajar memperbaiki sepeda. Teman-temannya juga mendapatkan pakaian. Dia mengaku, jarang punya masalah dengan polisi atau pemilik toko. “Saya belajar menjadi anggota masyarakat yang baik dan menyelesaikan semua masalah. Saya mencoba untuk meninggalkan situasi lebih rapi daripada saat saya datang,” pungkas Ferrell.
Posted by Unknown On 16.08
Ketika industri seni sibuk dengan pemujaan pada seniman-seniman berkelas, takjub terhadap harga selangit di balai-balai lelang terkenal, kaum akar yang sering terpinggirkan tetap asik mencipta karya seni dengan basis kerakyatan serta kebersamaan.

 
Foto: atlasobscura.com


Sebagai contoh, yang belakangan kabarnya sedang hype adalah karya seni para petani Jepang di atas sawah mereka, atau lebih dikenal sebagai Tanbo Art.

Tanbo Art adalah seni ‘melukis’ diatas kanvas raksasa, yaitu berupa sebidang sawah. Karya seni ini pertama kali muncul pada tahun 1993 di desa Inakadate, 600 mil dari Tokyo (masuk dalam Prefektur Aomori di wilayah Tohoku, Jepang).

Di tahun tersebut, penduduk Inakadate sedang mencari cara untuk merevitalisasi desa mereka. Eksplorasi arkeologi menyebabkan kesadaran bahwa padi telah ditanam di daerah tersebut selama lebih dari 2000 tahun. 

Untuk menghormati sejarah ini, mulailah mereka membuat inovasi karya seni dan sawah dipilih sebagai medianya. Guna memperoleh warna yang beraneka rupa, petani Inakadate menggunakan empat jenis varian padi.

Foto: dailymail


Proses penciptaan Tanbo Art lumayan rumit dan penuh ketelitian. Desain gambar dibuat awal dengan bantuan komputer sebelum diterapkan di atas "kanvas hijau raksasa".

Setiap bulan April, warga desa bertemu dan memutuskan apa yang akan ditanam selama tahun berjalan. Misalnya saja, di tahun 2007 saja ada 700 petani yang membantu dalam satu proyek Tanbo Art. Menurut sumber Wiki, lukisan Gunung Iwaki yang sederhana menjadi lukisan yang pertama dibuat, dan dikerjakan selama sembilan tahun.



 
 Foto:wikipedia


Kini, Tanbo Art sudah menyebar ke berbagai wilayah di Jepang dan bisa dibilang merupakan salah satu objek wisata yang patut diperhitungkan. Menariknya, tak seperti fenomena crop circle yang menuai sensasi soal kedatangan Alien (meskipun ternyata hanya karya seni belaka), Tanbo Art murni karya seni yang berakar kerakyatan. Hal ini juga menjadi bukti bahwa kaum tani pun memiliki cita rasa seni yang tinggi.